PANIAI, PAPUA TENGAH | detikini.web.id — Baku tembak antara kelompok bersenjata TPNPB-OPM KODAP XIII Kegepanipuda Paniai dan militer Indonesia dilaporkan terjadi di Kampung Tuguwai, Distrik Aweida, Kabupaten Paniai, Selasa (3/11/2026). Insiden tersebut berdampak pada warga sipil yang dilaporkan mengungsi ke sejumlah wilayah untuk mencari tempat aman.
Informasi tersebut disampaikan Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB melalui siaran pers tertanggal 3 November 2026. Dalam laporan yang diklaim diterima dari PIS TPNPB Kabupaten Paniai, bentrokan berlangsung sejak sekitar pukul 14.00 hingga sore hari.
Menurut laporan tersebut, warga dari Distrik Aweida mengungsi menuju pusat Kota Enarotali dan wilayah Dauwagu, yang berada di kawasan perbatasan Kabupaten Paniai dan Kabupaten Intan Jaya. Hingga siaran pers diterbitkan, belum diketahui secara pasti apakah terdapat korban jiwa dari kedua pihak.
TPNPB-OPM juga mengklaim bahwa situasi keamanan di Kampung Tuguwai mulai berubah sejak 29 Oktober 2026. Dalam keterangannya, kelompok tersebut menyebut militer Indonesia menempati rumah pastoran Gereja Katolik hingga 2 November 2026. Sebagian personel kemudian diklaim menggunakan bangunan Puskesmas Tuguwai sebagai pos militer.
Menurut versi TPNPB-OPM, keberadaan aparat di fasilitas tersebut menimbulkan kekhawatiran masyarakat dan mendorong sebagian warga meninggalkan tempat tinggal mereka. Jumlah pengungsi disebut meningkat setelah bentrokan terjadi pada 3 November 2026.
Namun, informasi mengenai kronologi bentrokan, penggunaan rumah pastoran dan puskesmas sebagai pos militer, serta jumlah warga yang mengungsi belum dapat diverifikasi secara independen. Redaksi belum memperoleh keterangan resmi dari TNI/Polri, Pemerintah Kabupaten Paniai, pihak Gereja Katolik, maupun pengelola Puskesmas Tuguwai.
TPNPB-OPM sampaikan tuntutan
Dalam siaran persnya, Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB meminta militer Indonesia meninggalkan bangunan gereja, fasilitas kesehatan, dan sekolah yang menurut klaim mereka digunakan sebagai pos militer.
TPNPB-OPM juga mendesak Presiden Prabowo Subianto agar memastikan setiap operasi keamanan menghormati hukum humaniter internasional dan perlindungan terhadap masyarakat sipil.
Di tengah situasi tersebut, keselamatan warga menjadi perhatian utama. Masyarakat yang terpaksa meninggalkan rumah membutuhkan tempat perlindungan, makanan, air bersih, layanan kesehatan, serta jaminan keamanan.
Kondisi pengungsi perlu mendapat perhatian
Pemerintah Kabupaten Paniai bersama pemerintah distrik, aparat keamanan, pihak gereja, dan lembaga kemanusiaan perlu memastikan kondisi terkini masyarakat di Kampung Tuguwai dan sekitarnya. Pendataan jumlah pengungsi serta pemeriksaan kondisi fasilitas umum juga diperlukan agar kebutuhan warga dapat segera ditangani.
Redaksi masih membutuhkan konfirmasi dari pihak-pihak terkait mengenai kronologi bentrokan, jumlah warga yang mengungsi, kondisi korban, serta dugaan penggunaan fasilitas umum sebagai pos militer.
Berita ini disusun berdasarkan siaran pers Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB tertanggal 3 November 2026. Klaim yang belum memperoleh konfirmasi independen tetap disajikan sebagai keterangan dari sumber tersebut(*)
detikini.web.id







