BOGOR UTARA, JAWA BARAT — DETIKINI.WEB.ID — Dwi Santoso, Ketua RT 03, Kelurahan Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara, Jawa Barat, menyampaikan testimoninya setelah membaca Bab 12 buku “Prabowo dan Tantangan Penyelesaian Konflik Papua” karya Gembala Socrates Yoman.

Bab yang berjudul “Kekerasan Militer: Wajah Buruk Negara di Papua” tersebut, menurut Dwi, membuat dirinya merenungkan kembali persoalan konflik Papua dan bagaimana negara menjalankan pendekatan keamanan di wilayah tersebut.

Sebagai warga masyarakat yang selama ini lebih banyak memperoleh informasi mengenai Papua melalui pemberitaan media, Dwi mengatakan buku tersebut memberikan perspektif berbeda mengenai sejarah dan persoalan konflik di Papua.

“Sebagai warga biasa dan Ketua RT di Bogor Utara, selama ini saya hanya mendengar sekilas tentang Papua dari berita TV. Tapi di bab ini, Pak Socrates Yoman mengajak kita melihat langsung kutipan pernyataan Mendagri Dr. Tito Karnavian pada Juli 2020,” ujar Dwi dalam testimoninya.

Ia kemudian menyoroti kutipan pernyataan Tito Karnavian yang dicantumkan dalam buku tersebut mengenai kemungkinan penambahan pasukan di Papua.

Menurut Dwi, kutipan tersebut membuatnya mempertanyakan apakah pendekatan terhadap persoalan Papua selama ini lebih banyak bertumpu pada aspek keamanan.

Menyoroti Catatan Kekerasan dan Sejarah Papua

Dwi juga mengaku terkesan dengan pembahasan mengenai peristiwa Paniai pada 8 Desember 2014 yang disebut dalam buku tersebut.

Menurutnya, pembahasan itu kemudian dikaitkan dengan perjalanan sejarah Papua sejak awal keterlibatan Indonesia di wilayah tersebut.

Ia juga menyebut penulis buku mengutip memoar Acub Zainal dalam buku I Love the Army sebagai bagian dari pembahasan mengenai sejarah dan pendekatan keamanan.

“Dari situ saya jadi sadar, konflik ini bukan masalah ‘kemarin sore’. Ini luka sejarah yang panjang,” kata Dwi.

Mengajak Melihat Persoalan Papua secara Lebih Utuh

Dalam testimoninya, Dwi mengatakan buku tersebut tidak semata-mata ia pahami sebagai ajakan untuk membenci pihak tertentu.

Sebaliknya, ia menilai buku tersebut mendorong pembaca untuk mempertanyakan bagaimana kehadiran negara dirasakan masyarakat Papua.

“Buku ini tidak mengajak kita membenci. Tapi mengajak kita jujur melihat: negara hadir seperti apa di tanah Papua selama ini?” ujarnya.

Dwi juga menghubungkan persoalan tersebut dengan tugasnya sebagai Ketua RT yang sehari-hari berkaitan dengan menjaga kerukunan masyarakat.

Menurutnya, semangat menjaga kerukunan di tingkat lingkungan dapat menjadi refleksi dalam melihat persoalan kebangsaan, termasuk konflik yang berlangsung di Papua.

“Sebagai Ketua RT, tugas saya menjaga kerukunan di lingkungan. Setelah membaca bab ini, saya merasa tugas kita sebagai bangsa juga begitu: menjaga, mendengar, dan mencari jalan damai, bukan hanya menambah kekuatan,” katanya.

Merekomendasikan untuk Dibaca Masyarakat

Dwi menyatakan merekomendasikan bab tersebut untuk dibaca oleh pengurus RT/RW, tokoh masyarakat, dan generasi muda.

Menurutnya, pemahaman masyarakat terhadap Papua tidak seharusnya berhenti pada informasi bahwa terdapat konflik di wilayah tersebut, tetapi juga perlu disertai pemahaman mengenai sejarah dan berbagai perspektif yang berkembang.

“Supaya kita tidak hanya tahu ‘ada konflik di Papua’, tapi juga mau memahami akar dan wajahnya. Supaya kita bisa jadi warga negara yang lebih bijak dan berempati,” tuturnya.

Testimoni tersebut merupakan pandangan dan pengalaman pribadi Dwi Santoso setelah membaca buku yang disebutkan dalam testimoninya. Pernyataan mengenai isi buku, kutipan tokoh, maupun peristiwa sejarah dalam testimoni tersebut merupakan bagian dari kesaksian dan pemahaman Dwi terhadap buku tersebut.(*)

DETIKINI | JAWA BARAT

\ Get the latest news /