MAYBRAT — detikini.web.id —Kondisi pembangunan sarana pendidikan di pedalaman Distrik Aifat Timur, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya, menjadi sorotan setelah muncul seruan yang menuntut perhatian nyata pemerintah terhadap kebutuhan infrastruktur sekolah.
Melalui tulisan bertajuk “Suara dari Lembah Gunung Faumair”, masyarakat menyampaikan keprihatinan terhadap kondisi pagar dan gapura sekolah yang masih memanfaatkan bahan-bahan lokal, seperti kayu dan daun sagu.
Seruan tersebut menegaskan bahwa masyarakat pedalaman tidak hanya membutuhkan janji pembangunan atau kegiatan seremonial, tetapi juga pemerataan fasilitas pendidikan yang layak bagi anak-anak di wilayah mereka.
Soroti Kesenjangan Fasilitas Pendidikan
Dalam pernyataan itu, kondisi pagar dan gapura sekolah digambarkan masih jauh dari fasilitas yang diharapkan. Sementara sejumlah sekolah di wilayah lain telah memiliki pagar beton dan gapura dengan atap seng, sekolah di pedalaman tersebut masih mengandalkan bahan alam untuk membangun fasilitasnya.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai pemerataan pembangunan pendidikan, khususnya bagi sekolah-sekolah yang berada di wilayah terpencil.
“Ini bukan kearifan lokal, ini keterpaksaan,” demikian salah satu pesan utama dalam seruan tersebut.
Penulis seruan menolak apabila keterbatasan sarana dan prasarana sekolah semata-mata disebut sebagai bentuk pemanfaatan kearifan lokal atau pendidikan berbasis budaya. Menurut pandangan yang disampaikan, penggunaan bahan lokal dalam pembangunan fasilitas sekolah bukanlah pilihan yang sepenuhnya bebas, melainkan gambaran keterbatasan yang masih dihadapi.
Kritik terhadap Beban Administrasi Sekolah
Selain menyoroti kondisi fisik bangunan, seruan tersebut juga mempertanyakan tuntutan administrasi pendidikan yang dinilai belum sebanding dengan ketersediaan fasilitas dasar di lapangan.
Pihak yang menyampaikan seruan menyinggung kewajiban pengisian daftar hadir, dokumentasi kerusakan, pengunggahan modul ajar melalui Platform Merdeka Mengajar (PMM), serta pelaksanaan asesmen digital.
Menurut seruan itu, berbagai tuntutan administrasi dan digitalisasi pendidikan perlu disertai dukungan infrastruktur yang memadai, termasuk akses internet dan fasilitas sekolah yang layak.
Persoalan tersebut menjadi pengingat bahwa peningkatan mutu pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kurikulum dan administrasi, tetapi juga membutuhkan dukungan sarana, prasarana, dan akses teknologi yang sesuai dengan kondisi setiap wilayah.
Minta Pemerintah Melihat Kondisi di Lapangan
Dalam pernyataannya, masyarakat mengajak pemerintah untuk datang langsung melihat kondisi sekolah di pedalaman Aifat Timur. Mereka berharap pemerintah memberikan perhatian konkret terhadap pembangunan pagar dan gapura sekolah yang lebih layak, termasuk penggunaan material yang lebih tahan lama.
Tuntutan itu, menurut seruan tersebut, bukan semata-mata demi penampilan bangunan, melainkan sebagai bagian dari upaya menghadirkan lingkungan pendidikan yang lebih baik bagi anak-anak di Maybrat.
Masyarakat juga menginginkan agar anak-anak di pedalaman memperoleh kesempatan belajar dengan dukungan fasilitas yang layak, sebagaimana anak-anak di wilayah perkotaan.
“Kami Bisa Anyam Daun, tetapi Negara Tidak Seharusnya Membiarkan Kami Terus Menganyam Kemiskinan”
Kalimat tersebut menjadi penutup sekaligus pesan utama dalam seruan Suara dari Lembah Gunung Faumair.
Pesan itu menggambarkan harapan agar pembangunan pendidikan menjangkau seluruh wilayah, termasuk kampung-kampung terpencil yang masih menghadapi keterbatasan fasilitas dasar.
Hingga berita ini disusun, kondisi sekolah dan kebutuhan pembangunan yang disampaikan dalam seruan tersebut masih perlu didokumentasikan dan dikonfirmasi lebih lanjut melalui pihak sekolah serta instansi pemerintah terkait.
Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan pernyataan yang diterima redaksi. Konfirmasi mengenai nama sekolah, kondisi fasilitas, ketersediaan internet, serta tanggapan pemerintah daerah diperlukan untuk melengkapi pemberitaan.(*)
detikini.web.id — Informasi Papua dan sekitarnya.







