PAPUA-detikini.web.id | 2 Oktober 2026
Saya sadar dan mengerti bahwa ketika saya menulis artikel, opini, fakta, realitas, dan buku, ada pihak-pihak yang tidak senang dan tidak menyukai tulisan-tulisan saya.
Bahkan, ada seorang jenderal yang pernah mengatakan:
“Pak Socratez sudah gila, jadi jangan baca tulisan-tulisannya, nanti kita semua bisa jadi gila seperti Pak Socratez.”
Ada pula tanggapan terhadap buku terbaru saya, “Kami Bukan Bangsa Teroris” (2021). Komentar tersebut antara lain:
“Sering Pdt. Socrates kalau buat serangan tidak lihat kanan kiri… akhirnya off side, jadi tidak tepat sasaran.”
Walaupun saya dinilai seperti orang gila dan tulisan atau kritik saya dinilai tidak tepat sasaran, keyakinan iman saya tetap mengatakan bahwa lebih baik saya tidak dihormati, tidak disukai, direndahkan, atau dimarahi oleh pihak yang berkuasa, apabila pilihan tersebut menjadi bagian dari perjuangan bagi masa depan anak dan cucu saya serta bangsa saya, West Papua.
Saya berharap anak cucu dan generasi bangsa Papua Barat di masa depan dapat hidup sebagai manusia yang bebas, bermartabat, terhormat, dan memiliki kehidupan yang dilandasi nilai-nilai kasih, keadilan, martabat kemanusiaan, kesamaan derajat, kehidupan yang harmonis, serta kedamaian yang permanen di Tanah Pusaka Papua Barat.
Mereka boleh berbeda dalam pandangan ideologi dan keyakinan iman dengan bangsa-bangsa lain maupun dengan orang-orang pendatang yang berada dan hidup di Tanah ini. Namun, perbedaan tersebut tidak boleh menghilangkan persaudaraan.
Kita tetap dapat saling mengasihi dan menghormati berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai gambar dan rupa Tuhan Allah.
Saya akan berhenti menulis artikel, opini, fakta, realitas, dan buku apabila saya dilarang oleh Tuhan dan juga apabila rakyat dan bangsa Papua Barat tidak lagi menghendaki saya untuk menulis.
Selama Tuhan, rakyat, dan bangsa Papua Barat belum melarang saya menulis, saya akan terus menulis dan menulis untuk martabat kemanusiaan serta masa depan anak dan cucu rakyat dan bangsa Papua Barat.
Menulis adalah jalan hidup yang saya pilih untuk menyuarakan persoalan rakyat dan bangsa Papua Barat.
Dalam tulisan-tulisan saya, saya menyampaikan pandangan mengenai apa yang saya lihat sebagai persoalan rasisme, militerisme, ketidakadilan, kolonialisme, dan kapitalisme di Tanah Papua, serta apa yang saya pandang sebagai persoalan pelanggaran hak asasi manusia dan ancaman terhadap keberlangsungan hidup orang asli Papua.
Bagi saya, menulis bukan sekadar menyampaikan kata-kata. Menulis adalah bentuk tanggung jawab moral untuk menyuarakan martabat manusia, keadilan, kasih, kesamaan derajat, dan masa depan generasi Papua Barat.
Menulis adalah jalan hidup yang saya pilih untuk rakyat dan bangsaku Papua Barat.
Gembala Dr. Socratez S. Yoman
Ita Wakhu Purom, 26 Juli 2021
Sumber naskah: detikini.web.id







