detikini.web.id | Papua Tengah | Minggu, 25 Oktober 2026 – Tobias Kobogau, intelektual asal Kabupaten Intan Jaya yang bekerja sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Provinsi Papua Tengah, membantah narasi yang beredar di media sosial dan mengaitkan dirinya dengan persetujuan masuknya perusahaan tambang ke wilayah Intan Jaya.

Tobias menegaskan bahwa foto dirinya telah diedit dan disertai tulisan yang tidak pernah ia sampaikan. Ia juga membantah pernah memberikan izin bagi masuknya perusahaan tambang maupun eksploitasi Blok Wabu di Kabupaten Intan Jaya.

Klarifikasi tersebut disampaikan melalui rekaman suara pada Sabtu malam (24/10/2026). Dalam rekaman itu, Tobias menyapa masyarakat Papua, khususnya warga Papua Tengah dan Intan Jaya, serta mahasiswa dan kelompok kemanusiaan yang selama ini menyuarakan persoalan kemanusiaan di Tanah Papua.

“Saya ingin klarifikasi terkait foto saya atas nama Tobias Kobogau,” ujarnya.

Foto yang dipersoalkan diketahui beredar di media sosial dengan narasi yang mengaitkan banyaknya korban jiwa di Intan Jaya dengan persoalan emas. Narasi tersebut juga memuat kalimat yang menyiratkan bahwa masyarakat mengizinkan masuknya PT Blok B Wabu.

Selain itu, foto tersebut mencantumkan keterangan jabatan “Kepala Dinas Sosial”, yang menurut Tobias tidak sesuai dengan jabatan yang disandangnya.

Tobias menilai tulisan yang menyertai foto tersebut telah diubah oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

“Pernyataan ini diedit, dimainkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa pada Jumat sebelumnya, dirinya hanya menyampaikan pandangan mengenai situasi keamanan dan kondisi yang terjadi di Intan Jaya serta Tanah Papua. Dalam penyampaiannya, ia menyinggung banyaknya korban jiwa selama periode 2019 hingga 2026.

Menurut Tobias, pernyataan tersebut merupakan ungkapan kekecewaan dan kesedihannya terhadap situasi keamanan yang berkepanjangan di Intan Jaya. Ia mengatakan, kondisi tersebut kerap dikaitkan dengan persoalan Blok Wabu dan keberadaan TPNPB-OPM.

Tobias juga menyoroti dampak konflik bersenjata terhadap masyarakat dari berbagai kalangan, termasuk tokoh agama, warga sipil, mahasiswa, anak-anak, dan perempuan.

“Banyak orang meninggal: gembala, pendeta, masyarakat sipil, mahasiswa, anak-anak, mama-mama. Semua menjadi sasaran ketika terjadi tembak-menembak antara TNI, Polri, dan TPNPB-OPM di Kabupaten Intan Jaya,” ujarnya.

Ia mengaku prihatin atas situasi tersebut karena menimbulkan kesedihan dan rasa tidak aman di tengah masyarakat.

“Batin tidak nyaman,” katanya.

Tobias mengajak para tokoh dan seluruh elemen masyarakat untuk bersatu mencari solusi guna menciptakan kedamaian di Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua Tengah, dan seluruh Tanah Papua.

Terkait isu Blok Wabu, Tobias kembali menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memberikan izin atau persetujuan bagi perusahaan untuk masuk dan melakukan eksploitasi sumber daya alam di wilayah tersebut.

“Kami tidak punya kuasa, tidak punya kapasitas untuk mengizinkan sebuah perusahaan masuk ke satu wilayah,” tegasnya.

Ia juga meminta pihak-pihak yang menyebarkan foto tersebut agar segera menghapusnya dan tidak lagi menyebarkan narasi yang menurutnya telah mengubah maksud pernyataan yang ia sampaikan.

“Teman-teman yang menyebarkan foto saya, tolong dihapus,” pintanya.

Catatan Redaksi: Berita ini disusun berdasarkan materi klarifikasi Tobias Kobogau. Klaim mengenai penyuntingan foto, konteks penyebarannya, serta informasi terkait situasi keamanan dan Blok Wabu perlu diverifikasi secara independen.(*)

\ Get the latest news /