detikini.web.id | Intan Jaya, Papua Tengah | Senin, 26 Oktober 2026 – INTAN JAYA — Rencana pengembangan dan eksploitasi Blok Wabu di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah, terus menuai penolakan dari berbagai elemen masyarakat. Penolakan tersebut melibatkan masyarakat setempat, tokoh pemuda, tokoh agama dan gereja, tokoh perempuan, tokoh adat, kaum intelektual, mahasiswa, hingga organisasi masyarakat sipil yang menyuarakan kepentingan rakyat Papua.
Arnold Belau menyatakan bahwa sejak isu eksploitasi Blok Wabu mencuat, berbagai kelompok masyarakat telah menyampaikan keberatan terhadap rencana pemanfaatan kawasan tersebut. Menurutnya, masa depan masyarakat adat serta perlindungan hak-hak masyarakat setempat harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan pembangunan di Intan Jaya.
Ia juga menyoroti peningkatan kehadiran militer di wilayah tersebut selama dua tahun terakhir. Kondisi itu, menurut Arnold, memunculkan pertanyaan mengenai tujuan penempatan aparat, terutama di tengah perdebatan tentang rencana pengembangan Blok Wabu.
“Apakah ini untuk keamanan dan pembangunan? Atau untuk memuluskan jalan bagi eksploitasi Blok Wabu?” demikian pertanyaan yang disampaikan Arnold Belau.
Ia mengatakan masyarakat kini menantikan langkah konkret pemerintah daerah Intan Jaya dan pemerintah pusat dalam menyikapi persoalan tersebut.
Arnold juga menekankan pentingnya keterbukaan pemerintah mengenai kebijakan keamanan dan rencana pengembangan Blok Wabu agar masyarakat memperoleh kejelasan mengenai arah kebijakan yang diambil.
Menurutnya, persoalan Blok Wabu tidak hanya menyangkut pemanfaatan sumber daya alam, tetapi juga berkaitan dengan perlindungan hak masyarakat adat, kelestarian lingkungan, situasi keamanan, serta keterlibatan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan.
Masyarakat, kata Arnold, terus menantikan kebijakan pemerintah yang mempertimbangkan aspirasi warga Intan Jaya dan masa depan rakyat Papua.(*)
detikini.web.id — Fakta • Aktual • Tepercaya







