YAHUKIMO — detikini.web.id — Enam warga sipil dilaporkan menjadi korban penembakan di Kampung Samboga, Distrik Seredala, Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan, pada Jumat, 18 September 2026 sekitar tengah malam.

Menurut keterangan yang diterima dari pihak gereja, keluarga, tokoh masyarakat, serta pihak yang terlibat dalam proses pencarian dan evakuasi, dua korban telah ditemukan dalam kondisi luka serius dan dievakuasi ke RSUD Dekai Yahukimo. Sementara empat korban lainnya dilaporkan masih dalam pencarian.

Informasi mengenai enam warga tersebut sebelumnya juga diberitakan sejumlah media pada 21 September 2026 berdasarkan keterangan Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB. Enam nama yang disebut adalah Yonas Aje, Pilatus Porpom, Daniel Timuka, Kani Borpom, Yanus Patika, dan Elli Timuka. Klaim mengenai kronologi dan jumlah korban masih memerlukan verifikasi dari pihak-pihak terkait.

PROSES PENCARIAN DAN EVAKUASI

Menurut laporan yang diterima, proses pencarian dan evakuasi melibatkan Persekutuan Gereja-gereja Yahukimo (PGGY), kepala suku, keluarga korban, kepala kampung, intelektual, serta aktivis kemanusiaan.

Dua korban yang berhasil ditemukan kemudian dibawa ke RSUD Dekai Yahukimo untuk mendapatkan penanganan medis.

Pihak yang memberikan keterangan menyebut proses evakuasi mengalami keterlambatan akibat situasi keamanan dan terbatasnya akses menuju lokasi.

Namun, hingga berita ini disusun, rincian mengenai kondisi seluruh korban serta penyebab pasti keterlambatan evakuasi masih membutuhkan konfirmasi lebih lanjut.

KRONOLOGI MENURUT KETERANGAN YANG DITERIMA

Berdasarkan laporan yang diterima, keenam warga tersebut sebelumnya melakukan aktivitas pendulangan emas di sekitar wilayah Samboga.

Pada Jumat, 18 September 2026, mereka disebut meninggalkan lokasi pendulangan dan hendak kembali menuju Kampung Samboga.

Sekitar tengah malam, kelompok tersebut dilaporkan tiba di sekitar ujung jalan aspal yang terputus. Menurut keterangan yang diterima, di lokasi tersebut terjadi kontak tembak dengan personel keamanan yang berada di wilayah tersebut.

Enam warga tersebut kemudian dilaporkan berpencar. Dua orang ditemukan dalam kondisi luka serius, sementara empat lainnya disebut melarikan diri ke arah hutan dan masih dalam pencarian.

Keterangan mengenai pihak yang melepaskan tembakan terlebih dahulu, posisi masing-masing pihak, serta rangkaian kejadian secara lengkap masih memerlukan penyelidikan dan verifikasi independen.

Sebelumnya, TPNPB juga menyampaikan klaim bahwa para warga tersebut telah dipantau menggunakan drone sebelum memasuki Kampung Samboga. Klaim tersebut belum memperoleh konfirmasi dari aparat keamanan.

ENAM NAMA YANG DILAPORKAN

Enam warga yang disebut dalam laporan tersebut adalah:

  1. Yonas Aje, laki-laki, 22 tahun.
  2. Pilatus Porpom, laki-laki, 25 tahun.
  3. Daniel Timuka, laki-laki, 19 tahun.
  4. Kani Borpom, laki-laki, 20 tahun.
  5. Yanus Patika, laki-laki, 28 tahun.
  6. Elli Timuka, laki-laki, 28 tahun.

Laporan dari pihak masyarakat menyebut keenamnya merupakan warga sipil setempat yang melakukan pekerjaan dan aktivitas pendulangan emas tradisional.

DUGAAN INTIMIDASI DAN KERUSAKAN GEREJA

Selain laporan mengenai penembakan, pihak yang memberikan keterangan juga menyampaikan dugaan adanya intimidasi terhadap masyarakat sipil di Kampung Samboga.

Mereka juga melaporkan dugaan kerusakan terhadap gedung Gereja GIDI Samboga. Menurut keterangan warga, sejumlah fasilitas seperti pintu, kursi, dan mimbar mengalami kerusakan.

Dugaan tersebut belum mendapatkan verifikasi independen maupun penjelasan resmi dari pihak yang dituduh bertanggung jawab.

PGGY MINTA MASYARAKAT SIPIL DILINDUNGI

Pdt. Atias Matuan dari Persekutuan Gereja-gereja Yahukimo (PGGY) menyampaikan keprihatinan atas peristiwa tersebut.

Ia menilai masyarakat sipil harus mendapatkan perlindungan dalam situasi konflik keamanan.

Menurutnya, apabila terjadi kontak bersenjata, masyarakat yang tidak terlibat dalam konflik seharusnya tidak menjadi korban.

Pdt. Atias juga meminta agar dugaan kerusakan terhadap Gereja GIDI Samboga mendapat perhatian dan pertanggungjawaban apabila hasil penyelidikan nantinya membuktikan adanya keterlibatan aparat.

KEPALA SUKU MINTA APARAT MEMAHAMI AKTIVITAS WARGA

Kepala Suku Alipia Yalak meminta aparat keamanan yang bertugas di Yahukimo memahami pola kehidupan masyarakat setempat.

Ia menjelaskan bahwa masyarakat Papua memiliki aktivitas sehari-hari yang berkaitan dengan alam, seperti berkebun, berburu, mencari ikan, serta mencari bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Menurutnya, kondisi tersebut perlu dipahami agar aktivitas masyarakat sipil tidak keliru dianggap sebagai aktivitas kelompok bersenjata.

Ia juga menyerukan agar pemerintah dan TPNPB mencari jalan penyelesaian melalui perundingan sebagai bagian dari upaya menciptakan penyelesaian damai.

KEPALA SUKU SOROTI TANAH ADAT

Kepala Suku Morome Busup menegaskan pentingnya penghormatan terhadap tanah adat dan masyarakat yang hidup di wilayah tersebut.

Menurutnya, wilayah tersebut merupakan tanah adat yang berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat dari berbagai suku.

Ia meminta negara berhati-hati dalam menjalankan operasi keamanan agar tidak menimbulkan korban masyarakat sipil.

INTELEKTUAL SUKU UNA UKAM MINTA AKSES DIBUKA

Intelektual Suku Una Ukam menyampaikan apresiasi kepada gereja, keluarga, tokoh masyarakat, dan pihak lainnya yang terlibat dalam proses pencarian serta evakuasi korban.

Ia meminta Pemerintah Kabupaten Yahukimo membuka akses masyarakat agar dapat menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal.

Menurutnya, masyarakat sipil tidak seharusnya otomatis dicurigai sebagai bagian dari kelompok bersenjata hanya karena berada di wilayah yang dianggap rawan.

KELUARGA: KAMI BUKAN TPNPB

Pihak keluarga korban juga menyampaikan keberatan atas perlakuan yang mereka klaim dialami masyarakat selama operasi keamanan.

“Kami bukan TPNPB. Di sini tempat masyarakat sipil menempati, di sini tempat manusia lahir, besar, dan tua,” demikian pernyataan keluarga.

Keluarga juga menyebut adanya dugaan kekerasan terhadap warga yang berusaha memberikan penjelasan mengenai kondisi masyarakat di lokasi.

Klaim mengenai tindakan kekerasan tersebut masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut dari pihak berwenang.

DESAK PENYELIDIKAN DAN PENCARIAN KORBAN

Peristiwa di Kampung Samboga menjadi perhatian karena menyangkut keselamatan masyarakat sipil serta akses terhadap layanan medis.

Sejumlah pihak meminta agar dua korban yang telah ditemukan mendapatkan perawatan medis, sementara pencarian terhadap empat warga lainnya terus dilakukan.

Mereka juga mendesak agar seluruh rangkaian peristiwa diperiksa secara objektif dan pihak-pihak terkait memberikan keterangan resmi.

Sampai berita ini diterbitkan, laporan mengenai penembakan enam warga tersebut masih didominasi keterangan dari pihak masyarakat dan TPNPB. Belum terdapat keterangan resmi yang dapat memverifikasi seluruh kronologi maupun menetapkan pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut. Media yang melaporkan klaim awal juga mencatat perlunya verifikasi lapangan dan keterangan dari pihak terkait.

DETIKINI.WEB.ID

\ Get the latest news /