detikini.web.id | Profil dan perjalanan hidup – Perjalanan hidup Penias T. Ndumpa merupakan kisah tentang kehilangan, keteguhan iman, perjuangan memperoleh pendidikan, dan proses belajar menjadi seorang pemimpin. Berasal dari Kiyakui, Kabupaten Paniai, Papua Tengah, Penias terus melangkah melewati berbagai tantangan hingga kini menempuh pendidikan tinggi di Universitas Negeri Malang, Jawa Timur.

Kisahnya memperlihatkan bahwa keterbatasan dan pengalaman pahit tidak harus menjadi akhir dari sebuah harapan. Dengan semangat belajar, keberanian merantau, dan keyakinan kepada Tuhan, Penias berusaha membangun masa depan yang lebih baik.

asal dan keluarga

Penias lahir pada 5 Juli 2006 di Kiyakui. Ia merupakan anak kelima dari lima bersaudara, dari pasangan Lukas Ndumpa dan Debora Dugupa. Menurut kisah yang disampaikannya, tiga saudaranya telah meninggal dunia sehingga kini hanya dua bersaudara yang masih hidup.

Sejak kecil, Penias mengenal arti kebersamaan keluarga dan pentingnya iman. Ayahnya menjadi sosok yang memberikan motivasi dan mengajarkan nilai-nilai kehidupan kepada anak-anaknya.

Namun, kebahagiaan keluarga tersebut berubah ketika ayahnya pergi ke Bayabiru untuk memenuhi kebutuhan hidup. Pada 2010, ayahnya meninggal dunia setelah dibunuh oleh orang yang tidak dikenal, sebagaimana diceritakan Penias. Saat itu, Penias masih berusia sangat muda.

Setelah kehilangan ayahnya, ia dirawat oleh ibunya, Debora Dugupa, dengan penuh kasih sayang. Akan tetapi, pada 2015, ibunya juga meninggal dunia. Kehilangan kedua orang tua pada usia dini menjadi salah satu ujian terberat dalam perjalanan hidupnya.

ujian di usia dini dan pelayanan di gereja

Setelah kepergian ibunya, Penias belum dapat melanjutkan pendidikan dasar sesuai rencana. Pada 2015–2016, ia belum bersekolah. Meski demikian, ia berusaha mengisi masa tersebut dengan kegiatan pelayanan di gereja sebagai pembantu gembala.

Pengalaman itu menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter dan keyakinannya. Di tengah kesulitan hidup, Penias belajar untuk tetap bertahan, menjalani tanggung jawab, dan memelihara harapan.

Baginya, iman kepada Tuhan merupakan salah satu sumber kekuatan untuk menghadapi keadaan yang tidak mudah. Keyakinan tersebut terus dibawanya ketika mulai menempuh pendidikan dan kemudian merantau ke luar Papua.

perjuangan menempuh pendidikan

Pada 2017, Penias mulai bersekolah di SD Inpres Ayaigo Kebo. Ia menceritakan bahwa dirinya masuk kelas II dan kemudian memperoleh kesempatan untuk naik hingga kelas V karena kesungguhannya dalam belajar. Ia menyelesaikan pendidikan sekolah dasar tersebut dan lulus pada 2019.

Perjalanan pendidikannya berlanjut di SMP YPPGI Enarotali, Kabupaten Paniai, Papua Tengah. Ia menyelesaikan pendidikan tingkat menengah pertama pada 2022.

Setelah lulus SMP, Penias mencoba mengikuti seleksi masuk Sekolah Genius Banteng di Jakarta. Namun, ia belum berhasil lolos. Kegagalan itu tidak membuatnya berhenti berusaha.

Ia kemudian mengajukan proposal kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Paniai untuk memperoleh kesempatan melalui program Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM). Usahanya membuahkan hasil ketika ia dinyatakan lolos dengan nama Penias Tumipa, sebagaimana tercantum dalam pengalamannya.

Bagi Penias, kesempatan tersebut merupakan anugerah Tuhan sekaligus jalan untuk melanjutkan pendidikan dan memperluas pengalaman hidup.

dari papua ke jawa

Pada 2022, Penias melanjutkan pendidikan di SMK Negeri 9 Malang, Jawa Timur. Bersekolah jauh dari kampung halaman membuatnya harus beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun pergaulan, serta belajar hidup lebih mandiri.

Di Malang, ia tidak hanya berfokus pada pendidikan formal, tetapi juga aktif mengikuti kegiatan organisasi pelajar dan mahasiswa Papua. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi, bekerja sama, dan menjalankan tanggung jawab.

Setelah menyelesaikan pendidikan di SMK, Penias kembali ke Papua pada bulan Juli untuk mengikuti proses seleksi beasiswa Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADiK). Ia kembali menghadapi masa penantian hingga akhirnya dinyatakan lolos dan memperoleh kesempatan untuk kembali ke Malang.

Saat ini, Penias tercatat menempuh pendidikan S1 Ilmu Sejarah di Universitas Negeri Malang, Fakultas Ilmu Sosial, melalui jalur afirmasi ADiK Papua.

Perjalanan dari Kiyakui menuju Malang menjadi bagian penting dalam hidupnya. Ia masih terus belajar, beradaptasi, dan memperjuangkan cita-cita melalui pendidikan tinggi.

pengalaman organisasi dan kepemimpinan

Selain menempuh pendidikan, Penias memiliki pengalaman dalam kegiatan organisasi. Ia pernah dipercaya memimpin Ikatan Pelajar Se-Papua Jawa Timur (IPSPJ) selama satu periode. Dalam catatan perjalanan hidupnya, masa kepemimpinan tersebut disebut berlangsung pada 2023–2025, sedangkan bagian lain menyebut periode 2024–2025. Periode resmi jabatannya perlu dipastikan kembali berdasarkan dokumen organisasi.

Pengalaman berorganisasi menjadi ruang bagi Penias untuk belajar mengoordinasikan kegiatan, membangun komunikasi, menyelesaikan persoalan, serta menjaga kebersamaan di antara para pelajar dan mahasiswa Papua di perantauan.

Ia juga pernah menjalankan tugas di bidang kesekretariatan Afirmasi Universitas Negeri Malang pada 2025. Pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk mengenal pekerjaan administrasi, pengelolaan informasi, dan pentingnya ketelitian dalam menjalankan tanggung jawab organisasi.

Selain itu, Penias dipercaya menjadi ketua panitia pelaksana perayaan Natal dan Tahun Baru IPMAPAPARA Malang tahun 2025/2026. Melalui kegiatan tersebut, ia turut mengambil bagian dalam upaya menjaga kebersamaan, mempererat hubungan antaranggota, serta merawat nilai-nilai kekeluargaan di tanah perantauan.

Berbagai pengalaman itu menjadi bekal bagi Penias untuk terus belajar menjadi pribadi yang bertanggung jawab, disiplin, mampu bekerja sama, dan siap menghadapi tantangan baru.

pengalaman sebagai bekal masa depan

Bagi Penias, pengalaman organisasi bukan sekadar jabatan yang pernah diemban. Setiap tanggung jawab merupakan kesempatan untuk belajar memahami orang lain, mengelola kegiatan, berkomunikasi dengan baik, dan mencari solusi ketika menghadapi persoalan.

Pengalaman memimpin organisasi pelajar Papua, menjalankan tugas kesekretariatan, serta mengoordinasikan kegiatan Natal dan Tahun Baru memberinya pelajaran yang berbeda-beda.

Dari organisasi, ia belajar mengenai kepemimpinan dan kebersamaan. Dari tugas kesekretariatan, ia belajar tentang keteraturan dan administrasi. Sementara itu, dari kepanitiaan, ia belajar mengenai koordinasi, pembagian tugas, serta tanggung jawab terhadap kegiatan bersama.

Pengalaman-pengalaman tersebut dapat menjadi modal untuk mengembangkan kapasitas diri. Meski demikian, Penias masih memiliki perjalanan panjang untuk terus belajar, memperluas wawasan, dan membuktikan kemampuannya melalui tindakan nyata.

pesan dan motivasi untuk generasi muda

Dalam kisah yang dibagikannya, Penias menyampaikan beberapa pesan yang menjadi pegangan hidupnya.

Pertama, jangan pernah melupakan Tuhan. Menurutnya, iman menjadi sumber kekuatan ketika menghadapi kesulitan. Ia percaya bahwa manusia perlu terus berusaha, berdoa, dan menjaga harapan meskipun jalan yang dilalui tidak selalu mudah.

Kedua, jangan melupakan asal-usul dan tujuan hidup. Pengalaman sederhana sekalipun dapat menjadi pelajaran berharga apabila dijalani dengan kesungguhan dan kemauan untuk belajar.

Ketiga, terus mengembangkan pengalaman, keberanian, dan kreativitas. Pengalaman membentuk karakter, keberanian membantu seseorang melangkah ke lingkungan baru, sedangkan kreativitas mendorong seseorang untuk terus berkembang dan tidak berhenti mencari pengetahuan.

Pesan tersebut menjadi pengingat bagi Penias untuk terus memperbaiki diri, sekaligus harapan agar generasi muda Papua tidak mudah menyerah ketika menghadapi keterbatasan.

perjalanan yang masih berlanjut

Kisah Penias T. Ndumpa bukan hanya tentang kehilangan kedua orang tua, keterlambatan memasuki sekolah, atau keberhasilan melanjutkan pendidikan ke Jawa. Kisah ini juga menggambarkan proses panjang seseorang dalam membangun ketahanan diri, memperoleh pengalaman, dan mempersiapkan masa depan.

Dari Kiyakui hingga Universitas Negeri Malang, setiap tahap kehidupan memberinya pelajaran yang berbeda. Perjalanan tersebut belum berakhir. Masih ada pendidikan yang harus diselesaikan, pengetahuan yang perlu dikembangkan, serta tanggung jawab yang kelak harus dijalankan.

Penias berharap dapat menyelesaikan studinya dengan baik dan menggunakan ilmu serta pengalaman yang diperoleh untuk memberikan kontribusi positif bagi keluarga, masyarakat, dan tanah Papua.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendampingi dan mendukung perjalanan hidupnya. Ia mengajak sesama pelajar dan mahasiswa untuk saling mengenal, menghargai perbedaan, membantu satu sama lain, dan membangun rasa kekeluargaan.

penutup

Perjalanan hidup Penias menjadi pengingat bahwa kepemimpinan tidak terbentuk secara instan. Karakter dan kemampuan seseorang berkembang melalui proses belajar, pengalaman, kerja keras, serta kesediaan untuk bertanggung jawab.

Bagi Penias, masa lalu bukan alasan untuk berhenti melangkah. Sebaliknya, pengalaman hidup menjadi dorongan untuk terus bertumbuh dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Dengan iman, semangat belajar, dan tekad untuk terus maju, ia berharap perjalanan dari kampung halaman menuju pendidikan tinggi dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda lainnya.

Catatan redaksi: Naskah ini disusun berdasarkan cerita pribadi yang disampaikan Penias. Nama resmi, riwayat pendidikan, nama organisasi, jabatan, periode kepemimpinan, dan jalur beasiswa sebaiknya diverifikasi sebelum diterbitkan.(*)

\ Get the latest news /