detikini.web.id | papua | rabu, 28 oktober 2026 papua — seorang pemimpin gereja yang berjiwa merakyat tidak cukup dinilai dari khotbah di mimbar atau aktivitas di kantor sinode. kualitas kepemimpinannya justru terlihat ketika umat menghadapi penderitaan, kehilangan tempat tinggal, mengalami kelaparan, jatuh sakit, dan terpaksa bertahan di hutan akibat situasi konflik.

pandangan tersebut disampaikan namene elopere melalui refleksi mengenai peran dan tanggung jawab kepemimpinan gereja di tengah penderitaan masyarakat papua. menurutnya, terdapat tiga hal penting yang dapat menjadi ukuran apakah seorang pemimpin gereja benar-benar hadir bersama umatnya.

1. hadir di tengah penderitaan, bukan hanya di tempat aman

kepemimpinan yang merakyat berarti bersedia merasakan dan memahami secara langsung kesulitan yang dialami umat. kehadiran itu dapat diwujudkan dengan mengunjungi tempat pengungsian, menjumpai warga di hutan, mendatangi kampung yang ditinggalkan, serta mendengarkan pengalaman ibu-ibu, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya.

dalam situasi kemanusiaan, umat membutuhkan lebih dari sekadar surat penggembalaan yang dikirim dari kota. mereka membutuhkan kehadiran, perhatian, pendampingan, dan tindakan nyata untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar.

2. menyuarakan penderitaan umat, bukan memilih diam demi kenyamanan

ketika umat mengalami penderitaan, pemimpin gereja memiliki tanggung jawab moral untuk menyampaikan kondisi yang mereka hadapi secara jujur dan terbuka.

menurut refleksi namene elopere, sikap diam ketika masyarakat menjadi korban dapat dirasakan sebagai ketidakberpihakan kepada mereka yang sedang membutuhkan perlindungan. pemimpin gereja yang dekat dengan umat diharapkan berani menyuarakan kebutuhan kemanusiaan, mendesak bantuan, memperjuangkan akses kesehatan, serta meminta perlindungan bagi warga sipil.

peran tersebut tidak mengharuskan pemimpin gereja menjadi politikus. gereja tetap dapat menjalankan misi pastoral dan kemanusiaannya dengan menyampaikan fakta, mendampingi korban, serta mengupayakan pertolongan tanpa kehilangan kemandirian moral.

3. menjadikan gereja tempat berlindung, bukan sekadar gedung ibadah

di papua, gereja memiliki peran penting dalam kehidupan sosial masyarakat. selain menjadi tempat ibadah, gereja juga kerap menjadi ruang untuk mencari penguatan, perlindungan, dan harapan ketika masyarakat menghadapi situasi sulit.

karena itu, ketika umat kehilangan rumah dan harus mengungsi, gereja diharapkan hadir sebagai tempat yang aman dan dapat dipercaya. kebutuhan warga tidak berhenti pada pelayanan rohani, tetapi juga mencakup makanan, layanan kesehatan, pendampingan psikososial, dan bantuan kemanusiaan sesuai kemampuan serta kondisi keamanan setempat.

apabila gereja tidak mampu hadir ketika umat berada dalam kesulitan, masyarakat berisiko merasa kehilangan salah satu tempat utama untuk mencari pertolongan.

kepemimpinan gereja diuji ketika umat kehilangan segalanya

refleksi namene elopere menekankan bahwa kepemimpinan gereja tidak semata-mata diukur dari ramainya ibadah, besarnya persembahan, atau kegiatan organisasi yang berjalan lancar.

ujian yang sesungguhnya hadir ketika umat tidak lagi memiliki banyak hal selain iman dan harapan untuk bertahan hidup. pada saat seperti itulah, keberanian untuk hadir, kesediaan untuk mendengar, dan tindakan nyata dalam membela martabat manusia menjadi sangat berarti.

pada akhirnya, gereja tidak hanya dipanggil untuk berbicara tentang kasih, tetapi juga menghadirkannya melalui tindakan. bagi seorang pemimpin gereja yang berjiwa merakyat, penderitaan umat bukan sekadar kabar yang didengar, melainkan panggilan untuk hadir, melayani, dan memperjuangkan kehidupan yang lebih aman serta bermartabat.(*)

detikini.web.id — 

\ Get the latest news /